Sejarah Perkembangan Uang dari Jaman Batu Sampai Jaman Internet

Posted by roinah on Saturday, November 12, 2011

Uang sudah lama dikenal masyarakat yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Kita harus tahu dari mana uang itu muncul pertama kalinya semua orang juga pasti juga ingin mengetahuinya. Dengan adanya uang kegiatan ekonomi semakin bertambah dan mewabah dalam era globalisasi ini. Uang mempunyai sejarah yang sampai saat ini masih ada, berbagai jenis mata uang kuno disetiap penjuru negeri hampir ratusan ribu uang yang berbeda-beda.
Maka dari itu kami mengumpulkan informasi dari media elektronik untuk melengkapi nilai tugas ekonomi yang diberikan oleh guru mata pelajaaran. Kami berharap informasi yang kami kumpulkan dalam bentuk buku ini dapat bermanfaat bagi semua orang.

Malang, 26 mei 2011
Tim Penyusun

kAtA pEngAntAr 1

dAftAr IsI 2

dEfInIsI / pEngErtIAn 3

sEjArAh pErkEmbAngAn UAng IndOnEsIA 8

Uang kErtAs rUpIAh IndOnEsIA dArI tAhUn 1938 – sEkArng 2010 21

kOLEksi Uang kErtAs IndOnEsIA jAmAn dULU 44

sEjArAh UAng dUnIA 82

lIrIk LAgU 86

kEsImpUlAn 90

dAftAr pUstAkA 91

DEFINISI / PENGERTIAN UANG
A. Uang dalam ilmu ekonomi tradisional
Didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.
Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.
Pada awalnya di Indonesia, uang —dalam hal ini uang kartal— diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia, sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroi.

B. FUNGSI UANG
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli dan fungsi turunan.

Fungsi asli uang ada tiga, yaitu :
- sebagai alat tukar
- sebagai satuan hitung, dan ;
- sebagai penyimpan nilai.

Uang berfungsi
sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.
Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.
Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan

C. JENIS-JENIS UANG
Uang yang beredar dalam masyarakat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang kartal (sering pula disebut sebagai common money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk menarik uang giral, orang menggunakan cek.

Uang Menurut Bahan Pembuatannya
Uang menurut bahan pembuatannya terbagi menjadi dua, yaitu
uang logam dan uang kertas.


Uang logam adalah uang yang terbuat dari logam; biasanya dari emas atau perak karena kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil, bentuknya mudah dikenali, sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai.
Uang logam memiliki tiga macam nilai:
Nilai intrinsik, yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang.
Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum pada mata uang atau cap harga yang tertera pada mata uang. Misalnya seratus rupiah (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp. 500,00).
Nilai tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat ditukarkan dengan semangkuk bakso).
Ketika pertama kali digunakan, uang emas dan uang perak dinilai berdasarkan nilai intrinsiknya, yaitu kadar dan berat logam yang terkandung di dalamnya; semakin besar kandungan emas atau perak di dalamnya, semakin tinggi nilainya. Tapi saat ini, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal adalah nilai yang tercantum atau tertulis di mata uang tersebut.
Sementara itu, yang dimaksud dengan “uang kertas” adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).

Uang Menurut Nilainya

Menurut nilainya, uang dibedakan menjadi uang penuh (full bodied money) dan uang tanda (token money)
Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum sama dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas uang lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang Rp1.000,00 pemerintah mengeluarkan biaya Rp750,00.



















DEFINISI UANG

A. Pengertian Uang

Uang adalah segala sesuatu yang diterima atau dipercaya masyarakat sebagai alat pembayaran atau transaksi.
Suatu barang dapat berfungsi sebagai uang barang apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Dapat diterima oleh umum.
b. Jumlahnya sedikit (langkah)
c. Sangat disukai
d. Tahan lama

Uang barang mempunyai beberapa kelemahan antara lain :
a. Apabila dipecah atau dibagi nilainya menjadi sangat merosot.
b. Umumnya tidak tahan lama
c. Nilainya tidak tetap
d. Sukar di simpan dalam jumlah banyak

B. Syarat dan Fungsi Uang
1. Syarat-syarat uang
Uang mempunyai peranan yang sangat tinggi terhadap jalannya roda perekenomian suatu bangsa, oleh karena itu uang harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
a. Diterima dan dipercaya oleh umum.
b. Memiliki nilai stabil
c. Ada jaminan dari pemerintah.
d. Terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak.
e. Mudah disimpan.
2. Fungsi Uang

Secara umum, fungsi uang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Fungsi asli, yang terdiri dari :
1. Sebagai alat pertukaran, atau tukar menukar.
2. Sebagai satuan hitungan

Fungsi Uang
1. Fungsi Asli
- Sebagai alat tukar (medium of change)
Dengan uang orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

- Sebagai satuan hitung (unit of account)
Uang dipakai untuk menunjukkan nilai berbagai macam barang dan jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa. Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
- Sebagai penyimpan nilai (store of value)
Dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

b. Fungsi turunan uang, antara lain terdiri :
1. Sebagai pendorong kegiatan ekonomi
2. Sebagai alat pembayaran
3. Untuk menentukan harga
4. Sebagai alat pembayaran hutang
5. Sebagai alat penimbun kekayaan
6. Sebagai alat pemindahan kekayaan (modal)
7. Sebagai alat untuk meningkatkan status sosial

C. Macam – Macam Uang
Berdasarkan jenisnya, uang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu uang kartal dan uang giral.

1. Uang Kartal
Uang yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat pembayaran yang sah berdasarkan undang-undang yang berlaku merupakan uang kartal.
Contoh :
a. Uang kartal Negara.
b. Uang kartal bank

2. Uang Giral
Uang giral dapat diartikan tagihan atau rekening di bank yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Contoh :
a. Cek
b. Bilyet Giro
c. Telegrafic Transfer

Perbedaan uang Kartal dan uang Giral

UANG KARTAL
1. Merupakan alat pembayaran yang sah untuk umum.
2. Setiap orang harus menerima dan berlaku memaksa.
3. Beredar diseluruh lapisan masyarakat
4. Tidak mengandung resiko karena di jamin oleh Negara dan diterima secara langsung.

UANG GIRAL
1. Bukan merupakan alat pembayaran yang berlaku untuk umum.
2. Umum boleh menolak dan sifat berlakunya tidak memaksa.
3. Hanya beredar di kalangan tertentu
4. Jika terjadi sesuatu dengan bank resiko ditanggung sendiri


Klasifikasi Uang

1. Full bodied money
Nilai yang tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal = nilai instrinsik. Jika uang tersebut terbuat dari emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.
2. Representative full bodied money
Uang ini terbuat dari kertas, dengan demikian nilainya sebagai barang tidak ada (nol). Uang jenis ini hanya mewakili (represent) dari sejumlah barang/logam di mana nilai logam sebagai barang sama dengan nilainya sebagai uang. Misal: surat emas (gold certificate) yang beredar di AS sebelum ditarik pada tahun 1933.
3. Credit money
Jenis uang dimana nilainya sebagai uang lebih besar daripada nilai sebagai barang. Dalam keadaan tertentu nilai sebagai barang tidak penting, seperti uang kertas. Untuk memelihara nilai sebagai barang lebih rendah daripada nilai sebagai uang maka pemerintah membatasi pencetakan uang.



























































SEJARAH PERKEMBANGAN UANG INDONESIA

Berbicara tentang perkembangan mata uang yang dulu pernah berlaku di wilayah Nusantara, maka ditinjau dari kepemilikan mata uang tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok :
 Mata uang atau koin-koin asli buatan lokal, yang dicetak oleh kerajaan-kerajaan atau daerah-daerah tertentu di wilayah Indonesia.
 Mata uang yang dimasukkan oleh orang-orang asing, baik pedagang maupun pemerintahan asing yang bertindak sebagai penjajah atau penguasa wilayah Nusantara, untuk dipakai sebagai alat tukar yang sah di wilayah Indonesia. Termasuk juga mata uang yang dicetak di Jawa oleh orang-orang asing tersebut di atas, untuk diedarkan di wilayah Nusantara.
Berdasarkan zamannya, perkembangan mata uang Indonesia dapat dibagi dalam beberapa periode :

1. ZAMAN KERAJAAN HINDU-BUDDHA (850-1300)
* Kerajaan Mataram Syailendra
* Kerajaan Daha/Jenggala & Majapahit

2. ZAMAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM
* Kerajaan-kerajaan di Jawa (Banten, Cirebon, Sumenep)
* Kerajaan-kerajaan di Sumatera (Samudra Pasai, Aceh, Palembang, Jambi)
* Kerajaan-kerajaan di Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, Maluka)
* Kerajaan-kerajaan di Sulawesi (Gowa, Buton)

3. ZAMAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
* Perdagangan dengan Cina (850-1900)
* Perdagangan dengan VOC (1602-1799)
* Emergency Coins atau koin-koin darurat

4. ZAMAN PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA, PERANCIS, INGGRIS (1800-1945)
* Pendudukan Hindia Belanda (1800–1942)
* Pendudukan Perancis (1806-1811)
* Pendudukan Inggris (1811-1816)
* British East India Company di Sumatera
* Token-token Perkebunan dan Pertambangan
* Mata uang lainnya

5. ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945)

6. ZAMAN PEMERINTAHAN REPUBLIK INDONESIA (1945 – —)





















1. ZAMAN KERAJAAN HINDU BUDDHA (850–1300 Masehi)
A. Kerajaan Mataram Syailendra
Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :

* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak.Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).

Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.

Kerajaan Syailendra akhirnya meluaskan wilayahnya hingga ke daerah-daerah Jawa Timur, dimana pelabuhan-pelabuhannya seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya, banyak didatangi para pedagang dari manca negara. Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhannya merupakan daerah maritim, akhirnya semakin maju dibandingkan dengan kerajaan induknya di Jawa Tengah yang merupakan daerah agraris.

Pada zaman Dinasti Tang di Cina (618-907 Masehi), orang-orang Cina mulai berdatangan ke tanah Jawa untuk melakukan perdagangan. Mereka membawa dan memperkenalkan mata uangnya yang disebut Cash atau Caixa, Cassie, Pitje, atau orang Jawa menyebutnya Kepeng atau Gobok, dengan ciri khas terdapat lubang persegi di tengah. Koin-koin Cina ini lambat laun dapat diterima oleh penduduk sebagai alat pembayaran.

Pada kira-kira tahun 928 Masehi, Gunung Merapi meletus dahsyat, yang mengakibatkan rusaknya hampir seluruh sendi-sendi perekonomian kerajaan. Karena alasan itu, di samping semakin majunya daerah Jawa Timur, maka pada 929 diputuskan untuk memindahkan ibukota kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Nantinya Raja Mpu Sendok membagi wilayah Jawa Timur menjadi dua untuk dibagikan kepada dua orang anaknya, menjadi wilayah Daha dan Jenggala.

B. Kerajaan Daha/Jenggala dan Majapahit

Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.

Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.

Adapun alasan-alasan dari penggantian fungsi ini adalah :

* ukuran koin emas dan perak lokal terlalu kecil, sehingga mudah jatuh atau hilang. Sedangkan uang kepeng Cina mempunyai lubang di tengah, direnteng dengan tali sebanyak 200 keping, sehingga praktis dibawa ke mana-mana dan tidak mudah hilang.
* koin emas dan perak lokal adalah mata uang dalam pecahan besar, sedangkan koin-koin kepeng berfungsi sebagai uang kecil atau uang receh, yang sangat dibutuhkan dalam perdagangan. Nilai tukar untuk 1 Masa perak berharga 400 buah Chien. Pada akhir abad ke-9, dengan 4 Masa perak saja bisa membeli seekor kambing.

Sebenarnya koin-koin emas dan perak yang sudah mengalami perubahan bentuk adalah produk dari Daha dan Jenggala. Namun karena Kerajaan Majapahit (1293-1528) pada waktu itu merupakan kerajaan besar di Asia Tenggara, maka biasanya orang menamainya sebagai uang Majapahit. Padahal sejak akhir abad ke-13, mata uang “resmi” yang dipakai sebagai alat pembayaran adalah koin-koin kepeng Chien.

Namun pada zaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.








































2. ZAMAN KERAJAAAN-KERAJAAN ISLAM

A. Kerajaan-kerajaan di Jawa (Banten, Cirebon, Sumenep)

Mata-uang dari KESULTANAN BANTEN pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.

Mata-uang dari KESULTANAN CIREBON dibuat sekitar 1710/1760, saat berkuasa Sultan Sepuh. Koin dengan bahan dari timah dengan lubang di tengah itu, pada bagian muka tertulis inskripsi : “Cheribon”.

Berbeda dengan koin-koin Banten dan Cirebon, KESULTANAN SUMENEP di Pulau Madura tidak mencetak mata uangnya sendiri. Mata uangnya diambil dari koin-koin asing (di luar Sumenep), dengan diberi “Countermarked” (cetak tindih). Koin-koin yang digunakan adalah koin-koin Austria, Belanda, Java Rupee, Mexico (Real Bundar), (Real Batu/Cob), dll. Sedangkan cetak tindih yang dipakai, ada beberapa jenis seperti “Bintang Madura”, dengan tulisan Arab “Sumenep”, atau “cap dengan lima kelopak daun”. Koin-koin dengan cetak tindih ini dibuat pada saat bertakhtanya Sultan Paku Nata Ningrat (1811-1854) di Kesultanan Sumenep.

B. Kerajaan-kerajaan di Sumatera (Samudra Pasai, Aceh, Palembang, Jambi)

Mata uang emas dari KERAJAAN PASAI untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.

Setelah Pasai berhasil ditaklukkan oleh KERAJAAN ACEH pada 1524, sultan-sultan Aceh tetap mengikuti tradisi dari kerajaan Pasai dalam pembuatan mata uangnya. Namun uang Dirham Aceh berdiameter lebih besar, antara 12–14 mm. Pada bagian belakangnya terdapat tulisan Arab “as-Sultan al-adil”, yang artinya Sultan yang adil. Aceh juga membuat mata uang dari timah/timbal, yang disebut “Keueh”, dengan nilai satu Mas sama dengan 400 Keueh.

Kerajaan Aceh pernah memiliki empat Ratu yang memerintah secara berturut selama 60 tahun, dari 1641-1699. Yang pertama adalah Sultanah Safiat ad-Din, anak dari Sultan Iskandar Thani yang meninggal pada 1641. Karena tidak mempunyai anak laki-laki, maka diangkatlah anak perempuannya yang berkuasa sampai dengan 1675. Sultanah Nur al-Alam Naqiat ad-Din Syah Ratu Aceh yang kedua, yang memerintah pada 1675-1678. Penggantinya adalah Sultanah Inayat Syah Zakiat ad-Din Syah yang memerintah pada 1678-1688. Terakhir adalah Sultanah Kamalat Syah. Beliau memegang kekuasaan atas wilayah Aceh pada 1688-1699. Masing-masing ratu tersebut juga mencetak mata uangnya.

Mata uang dari KERAJAAN PALEMBANG dapat dibedakan antara yang mempunyai lubang di tengah, yang disebut dengan pitis “Picis Tebok” (Tebok dalam dialek Palembang berarti “Lubang”). Ada juga yang tidak mempunyai lubang yang disebut dengan “Picis Buntu”.

Picis Palembang dapat dibedakan juga antara yang bertahun dan yang tidak bertahun. Semua mata uangnya terbuat dari timah, kecuali koin yang bertahun AH 1198 (tahun 1774/75 Masehi), ada terbuat dari tembaga merah dan dari timah (berdasarkan temuan terbaru).

KERAJAAN JAMBI di Sumatera juga membuat mata uang picis dari timah. Salah satu koinnya ada yang berbentuk Oktagonal (segi 8), dengan tulisan “Sultan Anom Sri Ingalaga”. Ia mulai memerintah pada 21 Februari 1743.

C. Kerajaan-kerajaan di Kalimantan (Pontianak, Banjarmasin, dan Maluka)

KESULTANAN PONTIANAK mulai didirikan pada 1770, oleh seorang pedagang keturunan Arab bernama Abdul Rahman Alkadrie. Periode pencetakan koin-koin dari kesultanan di Kalimantan Barat ini berkisar tahun 1790-1817.

Koin-koin dari KESULTANAN BANJARMASIN pada umumnya merupakan imitasi dari koin-koin Duit VOC, yang dicetak sewaktu bertakhtanya Sultan Tamjid Illah III (1785-1808). Koin-koinnya mempunyai lambang VOC dan bertahun AH 1221.

Sebenarnya di Kalimantan masih ada satu kerajaan lagi yang jarang diketahui umum, yaitu KERAJAAN MALUKA. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja Putih yang bernama Alexander Hare, seorang petualang bangsa Inggris. Pada mulanya, Hare pada tahun 1812 diberi suatu wilayah kekuasaan oleh Sultan Banjarmasin, dengan kedudukan sebagai Residen. Namun tak lama memerintah, ia segera memperluas wilayah kekuasaannya, dengan membentuk koloni sendiri yang bernama Maluka. Hare mencetak mata uangnya sendiri sebagai mata uang yang sah untuk peredaran di wilayah Maluka, dan juga mendatangkan banyak tenaga kerja dari Jawa yang bekerja sebagai kuli-kuli di pertambangan batu bara. Namun masa pemerintahan Hare di Banjarmasin terhitung tidak terlalu lama, yakni dua tahun saja. Setelah kejatuhan VOC pada tahun 1799, Belanda mulai “mengambil alih” daerah-daerah kekuasaan VOC di Indonesia. Dan pada tahun 1816, pemerintahan Hindia Belanda berhasil menghancurkan koloni Maluka, serta mengusir Hare dari wilayah kekuasaannya.

D. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi (Gowa & Buton)

Mata uang dari KERAJAAN GOWA di Sulawesi Selatan disebut dengan “Dinara”, yang terbuat dari emas. Sultan Alauddin Awwalul Islam yang memerintah Kerajaan Gowa pada tahun 1593-1639, adalah sultan Gowa pertama yang beralih ke agama Islam. Sultan Hasanuddin, yang memerintah pada tahun 1653-1669, dengan gelarnya “I Mallombasi Muhammad Bakir Dg Mattawang Krg. Bontomangape”. Dengan kekalahannya melawan Belanda, Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya tanggal 18 November 1667. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa wilayah Minahasa, Butung dan Sumbawa yang tadinya termasuk dalam wilayah Kesultanan Gowa harus diserahkan kepada VOC. Dan semua pedagang-pedagang Eropa selain dari VOC, dilarang untuk melakukan perdagangan di wilayah bagian timur tersebut.

KERAJAAN BUTON di Sulawesi Tenggara, mempunyai bentuk mata uang unik yang terbuat dari kain. Mata uang ini dinamakan “Kampua”. Menurut legendanya, Kampua diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona, yang memerintah sekitar abad XIV.

Proses pembuatan dan peredaran Kampua, mandat sepenuhnya diserahkan kepada Menteri Besar atau yang disebut ‘Bonto Ogena’. Dialah yang akan melakukan pengawasan serta pencatatan atas setiap lembar kain Kampua, baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong. Pengawasan oleh ‘Bonto Ogena’ juga diperlukan agar tidak timbul pemalsuan-pemalsuan, sehingga hampir setiap tahunnya motif dan corak Kampua akan selalu diubah-ubah.

Adapun standar pemotongan kain Kampua adalah dengan mengukur panjang dan lebar Kampua, dengan cara: ukuran empat jari untuk lebarnya, dan sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke ujung jari tangan, untuk panjangnya. Sedangkan tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang Menteri Besar atau ‘Bonto Ogena’ itu sendiri.

Pada awal pembuatannya, standar yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu ‘bida’ (lembar) Kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam. Setelah Belanda mulai memasuki wilayah Buton kira-kira tahun 1851, fungsi Kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan dengan uang-uang buatan “Kompeni”. Nantinya nilai tukar untuk 40 lembar Kampua sama dengan 10 sen duit tembaga, atau setiap 4 lembar Kampua hanya mempunyai nilai sebesar 1 sen saja! Walaupun demikian, Kampua tetap digunakan pada desa-desa tertentu di Kepulauan Buton sampai 1940.














































3. ZAMAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Dalam penggolongan zaman perdagangan internasional ini sebenarnya bukan hanya orang-orang Cina dan VOC (Belanda) yang berdagang di Jawa, tapi kedua bangsa itulah yang paling dominan dalam melakukan perdagangan di Jawa. Dan dari mata uang Cash Cina dan mata-uang “kompeni” inilah yang telah memberikan pengaruh yang sangat besar bagi sejarah dan perkembangan numismatik di Indonesia.


A. Perdagangan dengan Cina (850-1900)

Pada awalnya, pedagang-pedagang Cina mulai banyak masuk ke tanah Jawa kira-kira pada zaman dinasti Tang di Cina (618-907 Masehi). Mereka dengan jung-jungnya (kapal Cina), mendarat di pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik dan Surabaya. Pada waktu itu Jawa Timur terkenal dengan produksi ladanya. Dalam melakukan perdagangannya, orang-orang Cina memperkenalkan dan menggunakan koin-koin tembaga yang disebut dengan “Chien” atau “Cash”, yang akhirnya diterima oleh penduduk sebagai alat pembayaran. Zaman Dinasti Sung di Cina (960-1279) adalah puncak-puncaknya dimana banyak sekali orang-orang Cina yang datang ke Jawa untuk berdagang, sambil membawa uang-uang kepengnya dalam jumlah besar.

Ma Huan, seorang Islam sebagai juru tulis Laksamana Cheng Ho, mencatat keadaan pada tahun 1405. Dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” yang terbit tahun 1416, dikatakan bahwa :
“Koin-koin Cina dari berbagai dinasti umum digunakan disini”….. “Dalam melakukan transaksi, pembayarannya memakai koin-koin cash tembaga Cina dari berbagai dinasti”…. “Orang-orang di sini (Jawa Timur) sangat senang dengan porselin-porselin Cina dengan motif hijau bunga, kain sutera, manik-manik dll. Mereka membelinya dengan uang-uang cash”….

Karena uang Chien banyak diekspor ke Jawa, maka pada zaman Dinasti Ming di Cina (1368-1644), terjadi keguncangan moneter akibat langkanya uang kecil. Akhirnya pemerintah Ming melakukan larangan ekspor uang Ch’ien ke luar negeri, termasuk ke Jawa. Sebagai gantinya VOC mengimpor koin-koin kepeng dari negara-negara lain, seperti Jepang, Korea dan Vietnam. Tahun 1723 Jepang akhirnya menghentikan ekspor uang cash.

Sebagai pengganti uang Chien yang dilarang diekspor oleh Kaisar Ming, pada sekitar 1590 mulai beredar koin-koin picis dari timah atau timbal (lead). Uang picis ini dibuat di Cina, diangkut bersamaan dengan kedatangan kapal-kapal Jung dengan berat rata-rata 200-300 ton. Kapal-kapal tersebut sebanyak 15-20 kapal setahunnya, datang pada bulan November atau Desember, dan akan kembali ke Cina pada bulan Juni tahun berikutnya, dengan membawa rempah-rempah yang dibelinya dari Banten. Sebanyak 12-13 ribu picis seharga satu dollar Spanyol, yang dapat membeli merica sebanyak 8 kantong. Di Indonesia, hanya Bali yang tetap menggunakan koin cash Cina dalam bertransaksi, bahkan masih dipakai sampai dengan pada tahun 1950.

B. Perdagangan dengan VOC (1602-1799)

Tahun 1595 untuk pertama kalinya kapal-kapal Belanda menginjak daratan Indonesia. Ekspedisi ini dikepalai oleh dua bersaudara, Cornelis dan Frederick de Houtman, dan mendarat di pelabuhan Banten. Mereka membawa koin-koin perak untuk dipakai membeli rempah-rempah, baik yang dinamakan Real Batu ataupun Real Bundar. Namun mereka kecewa karena uang yang dipakai di Banten adalah picis-picis dari timbal.

Dari ekspedisi awal ini akhirnya dua perusahaan Belanda, yaitu United Amsterdam Company (1594-1602) dan United Zeeland Company (1597-1602), ikut meramaikan pencarian rempah-rempah ke wilayah Nusantara. Mereka juga mencetak mata uangnya sendiri guna dipakai sebagai alat pembayaran, dengan tahun 1601/1602. Perlombaan mencari rempah-rempah ini akhirnya menimbulkan persaingan usaha, yang pada akhirnya malah merugikan bisnis mereka sendiri. Pada bulan Maret 1602, kedua perusahaan tersebut dilebur, dan didirikan sebuah perusahaan dagang baru yang dinamakan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

Karena seringnya terjadi kekosongan mata uang kecil, maka tahun 1726 VOC meminta kepada induknya di Belanda untuk dibuatkan koin-koin bernilai kecil, yang disebut Dute, Doit atau Duit. Duit VOC ini dinyatakan tidak berlaku di negeri induknya Belanda, dan hanya diedarkan untuk daerah-daerah dimana VOC berada. Namun peredaran duit tembaga ini cukup luas karena diedarkan juga di wilayah-wilayah Coromandel, Cochin, Malaka dan Ceylon.

Pada tahun 1743, VOC melakukan perjanjian dengan kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah pemberian hak kepada VOC untuk mencetak mata uangnya sendiri. Uang yang dicetak ini dikenal dengan nama “Derham Djawi” atau “Java Ducat” atau “Gold Rupee” (untuk koin emas), dan “Silver Java Rupee” (untuk koin peraknya).

Koin yang pertama kali dibuat VOC di percetakan uang di Batavia adalah Dirham Jawi dengan tahun 1744. Pada bagian muka terdapat tulisan dalam bahasa Arab: “Ila djazirat Djawa al-kabir”, sedangkan di bagian belakangnya : “Derham min Kompani Welandawi”. Yang artinya : “Uang milik perusahaan Belanda untuk Pulau Jawa Besar”.

Pada tahun 1799 VOC akhirnya dinyatakan bangkrut. Semua harta dan kekuasaannya diambil alih oleh pemerintahan Belanda, dan dimulailah babak baru masa penjajahan Belanda yang sesungguhnya.

C. Emergency coins atau mata-uang darurat

Mata uang darurat dibuat bila tidak tersedianya uang pecahan kecil dalam jumlah yang mencukupi. Hal ini terjadi jika tidak adanya kiriman koin-koin Duit dari Belanda, atau belum datangnya jung-jung Cina yang biasa menyuplai koin-koin picis.

Salah satu bentuk uang darurat adalah yang dinamakan “Bonk”, yang dibuat dengan cara memotong batangan-batangan tembaga Jepang. Potongan tembaga itu dicap pada kedua sisinya dengan berat yang standar, dan dicetak dalam beberapa pecahan, seperti ½, 1 atau 2 Stuiver.

Pada tahun 1796 dan 1797 dicetak juga doit-doit darurat yang terbuat dari timah, dan beredar bersamaan dengan Bonk. Pada bagian sebelah muka terdapat lambang VOC dan huruf “N” di atasnya (singkatan dari Nederlansche). Di bagian belakangnya tertulis : 1 Duit 1796 atau 1797. Karena doit-doit palsu dari timbal (lead) banyak beredar, maka duit timah itu ditarik dari peredarannya untuk dilebur kembali, yang mengakibatkan duit-duit timah itu menjadi langka sekali. Koin-koin darurat dalam pecahan Stuiver juga dicetak pada tahun 1799 dan 1800. Koin-koin ini terbuat dari campuran dua bahan, yaitu perunggu dari leburan meriam-meriam yang telah rusak, yang dicampur dengan timbal. Pada sisi muka dicetak : JAVA 1799/1800, dan di baliknya dicetak : 1 Stuiver.









4. ZAMAN PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA, PERANCIS, INGGRIS (1800-1942)

A. Pemerintahan Hindia Belanda (1800-1942)

Setelah VOC dinyatakan bangkrut pada tahun 1799, maka pemerintahan Belanda mengambil oper seluruh harta dan kekuasaan VOC. Mulailah zaman pendudukan Belanda di Indonesia dalam arti yang sebenarnya, dimana Belanda mulai menginvasi daerah-daerah yang dulunya tidak terjangkau oleh VOC. Tahun 1825-1830 di Jawa (bagian Tengah dan Timur) timbul perang besar yang dikenal dengan nama “Perang Jawa” atau “Perang Diponegoro”.
Akibat perang yang berkepanjangan ini, kas Belanda menjadi kosong. Untuk memenuhi pundi-pundinya, maka van den Bosch memperkenalkan apa yang disebut dengan “Cultuur Stelsel” atau “Tanam Paksa”. Dalam periode ini, dicetak berjuta-juta keping mata uang dengan pecahan Satu dan Dua Sen.

Koin perak 2.5 Gulden baru dibuat pada tahun 1840 setelah dilakukan standarisasi pada mata uang pada pemerintahan Raja Willem I. Berbagai macam mata uang baik emas, perak, dan tembaga juga dibuat pada masa-masa pemerintahan Raja Willem II, Willem III, atau Wilhelmina.

Pada masa pemerintahan Raja Willem II (1840-1849), percetakan uang di Batavia dan di Surabaya ditutup untuk selama-lamanya. Batavia ditutup pada bulan Januari 1843, sedangkan Surabaya pada akhir tahun 1843. Dengan ditutupnya percetakan uang di Jawa, maka sejak saat itu semua mata uang dikirim langsung dari negeri Belanda.

Pada zaman Raja Willem III (1849-1890), pernah dicetak koin perak dengan nilai 1/20 Gulden (Kelip). Koin ini bentuknya sangat kecil sekali, sehingga tidak diproduksi kembali setelah cetakan kedua tahun 1855. Koin-koin Sen dari tembaga juga dicetak, dengan pecahan 1 dan 2 ½ Sen. Pada masa-masa inilah koin cash Cina mulai ditinggalkan pemakaiannya. Koin tembaga 2 ½ sen disebut sebagai uang “Gobang” atau “Benggol”, dan mempunyai fungsinya yang lain, yaitu sebagai alat “Kerokan”.

Pada waktu bertakhtanya Ratu Wilhelmina (1890-1948), timbul perang dunia kedua, dimana tahun 1940 Jerman menginvasi serta menduduki Belanda. Keluarga kerajaan termasuk Ratu Wilhelmina lari ke Inggris dengan memakai kapal kargo. Di tempat pelariannya itu, Ratu membentuk “pemerintahan dalam pengasingan”. Pada masa perang itu, koin-koin tahun 1941-45 dicetak di Amerika, dengan tambahan huruf kecil pada bagian belakang bawah. Huruf “D” adalah singkatan dari “Denver” (1943-1945); “P’ adalah “Philadelphia” (1941-1945); dan “S” untuk “San Francisco” (1944-1945). Pada tahun 1945, setelah kekalahan Jerman, Ratu kembali ke negerinya Belanda. Namun pada tanggal 17 Agustus 1945 negara jajahannya di bagian timur telah memproklamasikan kemerdekaannya menjadi Republik Indonesia.


B. Pendudukan Perancis (1806-1811)

Pada tahun 1806, Perancis menduduki Belanda, yang menyebabkan transfer kekuasaan atas seluruh wilayah yang diduduki Belanda. Karena pendudukan Perancis dilakukan di negeri Belanda, maka pengaruh secara langsung terhadap pendudukan Indonesia sangat kecil sekali. Seluruh kontrol pemerintahan di Indonesia tetap dipegang oleh orang-orang Belanda. Tahun 1806 Napoleon mengangkat saudaranya Louis sebagai raja di Belanda. Pada masa itu koin-koin Perancis 2 Stuivers (Sols) dan 1 Stuiver (12 Deniers) ditetapkan berlaku di wilayah Hindia Belanda.

Pada tahun 1808 H.W. Daendels datang untuk menempati posnya sebagai Gubernur Jendral yang baru di Hindia Belanda. Daendels memerintahkan agar koin-koin dicetak dengan nama raja L.N. (Louis Napoleon), baik dengan huruf Blok maupun dengan Hiasan (Ornate). Tahun 1809 Daendels memerintahkan untuk membongkar seluruh tembok-tembok yang mengelilingi Batavia, termasuk puri-purinya, serta menimbun parit-parit yang ada di sekeliling kota. Daendels juga membuka percetakan mata uang yang baru di Surabaya, yang mengakibatkan percetakan uang Batavia menjadi mandeg.

Adapun koin pertama yang dicetak di Surabaya adalah duit tembaga dengan tulisan “JAVA 1806” serta lambang VOC di baliknya. Walaupun tertera tahun 1806, namun koin itu sendiri baru dicetak pada bulan Februari 1807.

Pada tahun 1811 Inggris menginvasi Jawa, dan berhasil mengalahkan Belanda. Mulailah babak baru pendudukan Inggris terhadap Indonesia selama lima tahun ke depan.

C. Pendudukan Inggris (1811-1816)

Pada tanggal 4 Agustus 1811, kapal-kapal Inggris mendarat di teluk Batavia, yang akhirnya dapat merebut Jawa, sehingga Belanda harus menyerahkan koloninya kepada Inggris. Berbeda dengan pendudukan Perancis terhadap Belanda, pendudukan Inggris dilakukan secara langsung, dimana wilayah Nusantara berada dalam kekuasaan Inggris. Untuk pertama kalinya diangkat Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal.
Satu seri koin menarik yang dicetak pada masa pendudukan Inggris adalah koin Java Rupee yang terbuat dari emas dan perak. Pada bagian depannya ditulis dalam bahasa Jawa kuno, “Kempni Hingglis, jasa hing Sura-pringga. Tahun Ajisaka AS 1741”. Sedangkan di baliknya tertulis dalam bahasa Arab Melayu : “Hinglish, sikkah kompani, sannah AH 1229 dhuriba, dar djazirat Djawa”.

Semua koin pada masa pendudukan Inggris dicetak di Surabaya, kecuali koin-koin darurat Doit Java dari timah murni Bangka dengan tahun 1813 dan 1814, yang dicetak di Batavia. Setelah kekalahan Napoleon di Eropa, maka berdasarkan perjanjian Wina tahun 1814 Inggris harus mengembalikan Jawa dan daerah lainnya kepada Belanda. Penyerahan koloni itu sendiri baru dilaksanakan Inggris pada tanggal 16 Agustus 1816.

D. British East India Company di Sumatera

Inggris mempunyai pusat perdagangannya di Bencoolen (Bengkulu), dengan membangun benteng dengan nama “FORT YORK”. Karena benteng dibakar oleh penduduk pada sekitar tahun 1700, maka tahun 1719 Inggris pindah ke benteng barunya yang bernama “FORT MARLBRO” (atau Fort Marlborough).

Pada tahun 1797 Inggris mencetak mata uangnya dengan nilai ½ Dollar, dengan tulisan FORT MARLBRO di sisi baliknya. Lalu pada bulan Maret 1818 ditunjuk Sir Stamford Raffles untuk menduduki posnya yang baru di Bengkulu. Berdasarkan perjanjian tanggal 17 Maret 1824, maka Inggris harus

menyerahkan Bengkulu dan semua pendudukannya di pantai barat Sumatera kepada Belanda. Sedangkan Belanda menyerahkan Malaka ke tangan Inggris, dan membolehkan Inggris mendirikan koloni di Singapura.

Para pedagang Inggris di Singapura juga membuat mata uangnya sendiri untuk diedarkan di wilayah Sumatera dan Sulawesi, seperti Keping-keping Minangkabau, Aceh, Tanah Melayu, Uang Ayam, dan sebagainya.



E. Token-token perkebunan dan pertambangan

Pada zaman pemerintahan Belanda, banyak token yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan perkebunan dan pertambangan, tidak hanya di Jawa, Sumatera, Bangka, Kalimantan, bahkan juga di pulau Bacan Ternate. Yang disebut Token adalah mata uang yang biasanya dibuat oleh pihak swasta, dan hanya mempunyai area peredaran yang sangat terbatas. Token hanya berlaku pada area dimana token tersebut diedarkan; di luar area tersebut token sama sekali tidak mempunyai nilai.

F. Mata-uang lainnya

Selain beraneka-ragamnya mata uang yang telah diceritakan di atas, masih banyak mata uang lainnya yang dulu pernah beredar di bumi Indonesia ini. Sejak zaman VOC, Belanda dan Inggris, digunakan juga mata uang asing, seperti uang Spanyol dan dari negara-negara jajahannya seperti Meksiko, Bolivia, Peru, Brasil, dll, juga dari negara-negara India, Persia, Austria, Amerika, Cina dan Jepang (mata uang perak modern), Hong Kong, Sarawak, Straits Settlements, dll. Kesemua mata uang di atas sampai sekarang masih dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia.

5. ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945)

Pendudukan Jepang di Indonesia hanya berlangsung selama tiga setengah tahun. Jepang banyak mencetak mata uang kertas, dan hanya satu seri koin yang dicetak, yaitu pecahan 1, 5 dan 10 Sen. Semuanya dicetak dengan tahun Jepang 2603 dan 2604 (1943 dan 1944 Masehi), yang dituangkan dalam Undang-Undang Pemerintahan Militer Jepang No. 2 tertanggal 8 Maret 2602 (1942). Koin pecahan 1 dan 5 Sen terbuat dari Aluminium, sedangkan koin nominal 10 Sen terbuat dari timah. Pada koin-koin nominal 5 dan 10 Sen, di bagian muka terdapat gambar Wayang, sedangkan nominal 1 Sen terdapat gambar kepala wayang. Di bagian belakangnya terdapat tulisan Jepang, JAVA, Nominal (Sen), dan tahun Jepang 2603/04.

6. ZAMAN PEMERINTAHAN REPUBLIK INDONESIA (1945- —)


Pada tahun-tahun awal setelah proklamasi kemerdekaan, banyak dicetak uang kertas seri ORI (Oeang Repoeblik Indonesa), dan uang-uang darurat yang dicetak oleh daerah-daerah (URIDA), tanpa satupun dicetak koin-koin sebagai mata uang.

Koin Indonesia dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1951. Koin ini terbuat dari aluminium dengan pecahan 5 Sen, dengan lubang pada bagian tengahnya. Koin aluminium pecahan 10 Sen (tanpa lubang) dengan gambar Garuda dicetak pada tahun 1951 juga. Berikutnya pada tahun 1952 dicetak koin-koin dengan pecahan 1 Sen (yang mempunyai desain sama dengan pecahan 5 Sen bolong) dan pecahan 25 Sen. Pada tahun yang sama juga dicetak koin dengan pecahan 50 Sen dengan gambar Dipanegara.

Pemerintahan Sukarno (1945-1967)


Seri koin-koin dengan gambar Sukarno juga dicetak untuk peredaran khusus di Kepulauan Riau. Koin-koin dengan tahun 1962 (dicetak tahun 1963) ini terbuat dari aluminium, dan terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, dan 50 Sen. Koin-koin ini ditarik dari peredaran dan dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 30 September 1964. Pada pinggiran semua koin seri Kepulauan Riau ini, tertera inskripsi “KEPULAUAN RIAU”.
Pada masa pembebasan IRIAN BARAT, juga dicetak koin-koin seri Sukarno yang dicetak khusus untuk peredaran di Irian Barat, dan semuanya bertahun 1962 (dicetak tahun 1964). Namun akhirnya dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Desember 1971.

Pemerintahan Suharto (1967-19998)

Masa pemerintahan Suharto dapat dikatakan sebagai masa pembangunan Indonesia. Setelah Suharto diangkat sebagai Presiden Indonesia yang kedua, maka koin-koin yang pertama kali dicetak pada awal pemerintahanya adalah tahun 1970. Koin-koin dengan bahan alumunium ini dikenal sebagai koin-koin seri burung (nominal 1 dan 5 rupiah) serta padi dan kapas (2 rupiah). Kampanye program keluarga berencana juga diabadikan dalam koin-koin seri tahun 1974 dan 1979, yang keduanya dari alumunium dengan nominal 5 rupiah. Serial koin-koin menarik dari bahan perak dan emas diluncurkan pada tahun 1970, guna memperingati 25 tahun kemerdekaan Indonesia. Koin-koin ini dicetak dengan bahan perak dan emas, mempunyai desain yang sama, namun berbeda dalam nominalnya. Pecahan Rp 200 mempunyai desain burung Cendrawasih, Rp 250 gambar Patung Manjusri, Rp 500 adalah Penari Wayang, Rp 750 adalah Barong, dan Rp 1.000 bergambar Jendral Sudirman. Untuk yang emas 5.000, 10.000. 20.000 dan 25.000. Seri-seri binatang dicetak pada tahun 1974 dengan gambar Harimau Jawa (Rp 2.000), Orang Utan (Rp 5.000) dan juga koin dari bahan emas dengan gambar komodo (Rp 100.000). Tahun 1987 diterbitkan lagi koin-koin menarik seri binatang, dari perak bernilai Rp 10.000 (Babi Rusa) dan dari emas bernilai Rp 200.000 (Badak Jawa).

Peringatan 50 tahun Kemerdekaan Indonesia tahun 1995 diabadikan dalam koin-koin dengan wajah Suharto. Koin-koin ini terdiri dari satu set, dimana koin dengan nominal Rp 300.000 (berat 17 gram) mempunyai desain muka Suharto yang sedang berdialog dengan penduduk. Sedangkan nominal Rp 850.000 (berat emas 50 gram), yang menggambarkan wajah penuh Suharto sedang menghadap kedepan.


Satu hal yang perlu dicatat dalam numismatik Indonesia, adalah dicetaknya koin dengan bahan Bi-Metal (dua bahan sekaligus). Koin ini pertamakalinya dicetak pada tahun 1993 dengan nominal Rp 1.000, dengan gambar pohon kelapa. Pada bagian lingkaran luar terbuat dari Copper-Nickel, sedangkan lingkaran dalamnya terbuat dari bahan Brass (kuningan). Inilah satu-satunya koin Bi-Metal yang pernah dicetak oleh Indonesia sampai saat ini.

Koin alumunium-Bronze nominal Rp 500 dengan gambar bunga melati, mulai dicetak pada tahun 1991. Lalu pada tahun 1997 dicetak lagi koin dengan pecahan Rp 500 dengan desain Bung Melati yang telah disempurnakan. Koin ini merupakan koin terakhir yang dicetak pada masa kepemimpinan Suharto, sebelum beliau digantikan oleh B.J Habibie setelah kerusuhan melanda Jakarta pada tanggal 21 Mei 1998.

Pemerintahan B.J Habibie (1998-1999)

B.J Habibie diangkat sebagai Presiden (Interim), setelah Suharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998. Pada masa pemerintahannya, beberapa koin dengan desain baru sempat dicetak, yaitu koin alumunium pecahan Rp 50 dan Rp 100 seri Burung Cariole dan burung Kakatua, tahun 1999. Satu lagi pada tahun 1999 juga dicetak koin emas seri "For the Children of the World" dengan nominal Rp 150.000, dengan desain mukanya anak laki-laki bermain kuda lumping.


Pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001)
Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur disumpah menjadi presiden setelah beliau memenangkan pemilihan presiden oleh MPR pada bulan Oktober 1999. Sayang, pada masa pemerintahanya hingga tanggal 23 Juli 2001, tidak ada koin-koin dengan desain baru yang pernah dicetak. Tahun 2000 hanya dicetak satu koin pecahan Rp 1000 Bi-Metal yang diambil dari desain lama.

Pemerintahan Megawati Soekarnoputri (2001-2004)

Setelah MPR menjatuhkan mosi tidak percaya pada tanggal 23 Juli 2001 kepada Abdurrahman Wahid, pada saat itu juga diangkat wakil Presiden Megawati menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-5. Setelah masa pemerintahanya, hanya dua buah koin dengan desain baru yang mulai diedarkan pada bulan November 2003, yaitu koin-koin alumunium dengan pecahan Rp 200 (Jalak Bali) dan Rp 500 (Bunga Melati).

Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (2004-..)

Susilo (atau lebih dikenal dengan sebutan SBY) dan Jusuf Kalla, dilantik sebagai Presiden RI yang ke-6 dan wakil Presiden pada tanggal 20 oktober 2004, setelah memperoleh suara terbesar dalam pemilu tahun 2004. Pemilu tahun 2004 tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai Pemilu yang untuk pertama kalinya dilakukan secara langsung oleh dan untuk rakyat. Namun setelah setahun pemerintahannya, belum ada satupun mata uang baru yang telah dicetak. Kita harapkan saja akan segera dicetak uang-uang dengan desain yang menarik dan terbuat dari logam yang lebih baik dari sebelumnya (seperti Bi-Metal), yang akan menambah koleksi dan perbendaharaan mata uang Idonesia.

Seperti telah kita ketahui bahwa sangat jauh sekali perbedaan antara desain dan mutu mata uang yang dicetak pada tahun 1993 kebawah (termasuk desain lama dengan versi baru) dibandingkan dengan cetakan mata uang seperti sekarang ini beredar (tahun 1994 keatas). Coba lihat dan bandingkan antara cetakan dari kedua periode diatas, dimana yang desain dan mutu mata uang tahun 1993 kebawah lebih menawan dibandingkan dengan cetakan cetakan sesudahnya. Hal ini dapat diindikasikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pada periode itu, yaitu sampai dengan setelahnya. Seperti telah diketahui bahwa sejak tahun 1998, kondisi perekonomian Indonesia sedang sakit parah, dan masih belum bisa kembali sembuh hingga saat ini.


PATOKAN NILAI TUKAR MATA UANG ZAMAN DULU

* 1 Silver Dukaton = 3 Gulden = 60 Stuiver = 240 Duit
* 1 Gulden = 20 Stuiver = 80 Duit.
* 1 Dirham emas / Dirham Jawi = 16 Silver Rupee (atau = 16 Gulden)
* 1 Stuiver = 4 Duit

ISTILAH-ISTILAH MATA UANG

* 2 ½ Gulden = Ringgit
* 1 Gulden = Rupiah
* ½ Gulden = Ukon
* ¼ Gulden = Talen atau setalen
* 1/10 Gulden = Ketip
* 1/20 Gulden = Kelip

Uang Kertas Rupiah Indonesia dari tahun 1938 – sekarang 2010
Tahun 1938
Tahun 1939


Tahun 1942












Tahun 1945




Tahun 1947


































Tahun 1948




Tahun 1956




Tahun 1958




Tahun 1959




Tahun 1960









Tahun 1961













































Tahun 1964
Ditahun 1965 terjadi krisis pertama kali di Indonesia sehingga Bank Indonesia memotong nilai mata uang Rupiah dari Rp. 1.000 menjadi Rp. 1
Dan Indonesia juga menjadi salah satu negara asia tenggara yang mencetak mata uangnya sendiri.












Tahun 1968






Tahun 1975



Tahun 1977



Tahun 1979


Tahun 1980


Tahun 1982



Tahun 1984


Tahun 1985


Tahun 1987


Tahun 1988


Tahun 1992



Tahun 1993


Tahun 1995


Tahun 1998


Tahun 1999



Tahun 2000


Tahun 2001



Tahun 2004



Tahun 2005


Tahun 2009





Tahun 2010






















Koleksi Uang Kertas Indonesia Jaman Dulu
Uang Kertas Indonesia Tahun 1992





















































Uang Kertas Indonesia Tahun 1975



























Uang Kertas Indonesia Tahun 1968











































Perkembangan Sejarah Mata Uang Republik Indonesia : Rupiah
Posted on 21 Januari 2010 by Widya Wicaksana

http://supermilan.wordpress.com
Uang Kertas Bank Indonesia emisi 1993



Seri / emisi : Emisi 1993
Pecahan : Rp 50.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan
Bahan : Kertas

Penandatangan : Adrianus Mooy dan Hasudungan Tampubolon

Tanggal
Penerbitan : 01 Maret 1993
- Penarikan : 21 Agustus 2000

Warna Dominan
- Depan : Biru / hijau
- Belakang : Biru / hijau

Ukuran
- Panjang x lebar : 152 x 76mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar Presiden Soeharto dengan latar belakang pembangunan di semua sektor
- Belakang : Gambar pesawat terbang sedang lepas landas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
- Tanda air : Holografis Soeharto

Jual Baby Bag HDY @ http://TasBayi.JawaraShop.com




Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri “For The Children of The World”




Seri / emisi : Seri for the children of the world
Pecahan : Rp 150.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 31 january 2000
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 6,22 gram
- Tebal : -
- Diameter : 22,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia” dan logo unicef
- Belakang : Gambar anak laki-laki bermain kuda lumping, teks “for the children of the world”
- Samping : Bergerigi

Jual Laptop Bag Aidea @ http://TasLaptop.JawaraShop.com



Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri demokrasi/1995



Seri / emisi : Seri demokrasi/1995
Pecahan : Rp 300.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 16 Agustus 1995
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 17,00 gram
- Tebal : 1,85 mm
- Diameter : 25,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia” dan “300000 rupiah”
- Belakang : Gambar temu wicara Presiden Soeharto dengan masyarakat, logo dhn-45 dan “50 tahun RI”
- Samping : 5 garis di 4 tempat berbeda, teks 17 g., logo perum peruri, dan nomor seri 5 angka

Jual Sandal Nama @ http://SandalNama.JawaraShop.com











Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri Presiden RI/1995




Seri / emisi : Seri Presiden RI
Pecahan : Rp 850.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 16 Agustus 1995
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 50,00 gram
- Tebal : 2,78 mm
- Diameter : 35,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia” dan “850000 rupiah”
- Belakang : Gambar Presiden Soeharto, teks “lima puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia”
- Samping : 5 garis ditempat 4 berbeda, teks 17 g., logo perum peruri

Media Promosi Usaha @ http://MediaPromosiUnik.JawaraShop.com

















Uang Logam Khusus Bank Indonesia emisi 1970




Seri / emisi : Emisi 1970
Pecahan : Rp 20.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 17 Agustus 1970
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 49,37 gram
- Tebal : -
- Diameter : 50,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar ukiran garuda bali, teks “25 tahun kemerdekaan Republik Indonesia”
- Belakang : Gambar lambang negara garuda pancasila, logo “Bank Indonesia” dan “2000 rupiah”
- Samping : Rata

http://MejaLaptop.JawaraShop.com



















Uang Logam Khusus Bank Indonesia emisi 1970




Seri / emisi : Emisi 1970
Pecahan : Rp 2.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 17 Agustus 1970
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 4,93 gram
- Tebal : -
- Diameter : 18,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar burung cenderawasih dan teks “25 tahun kemerdekaan Republik Indonesia”
- Belakang : Gambar lambang negara garuda pancasila, logo “Bank Indonesia dan “2000 rupiah”
- Samping : Rata

http://JualBeliPonsel.JawaraShop.com
Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri cagar alam/1974

Seri / emisi : Seri cagar alam/1974
Pecahan : Rp 5.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Perak
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 01 october 1974
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Putih
- Belakang : Putih

Ukuran
- Berat : 35,00 gram
- Tebal : 2,87 mm
- Diameter : 42,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia”
- Belakang : Gambar orang utan, nominal “rp 5000″
- Samping : Bergerigi

http://supermilan.wordpress.com



















Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri cagar alam/1987




Seri / emisi : Seri cagar alam/1987
Pecahan : Rp 10.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Perak
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 01 october 1987
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Putih
- Belakang : Putih

Ukuran
- Berat : 19,44 gram
- Tebal : -
- Diameter : 36,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia”
- Belakang : Gambar babirusa, nominal “rp 10000″
- Samping : Bergerigi

Jual Baby Bag HDY @ http://TasBayi.JawaraShop.com



















Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri cagar alam/1987




Seri / emisi : Seri cagar alam/1987
Pecahan : Rp 200.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 01 october 1987
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 10,00 gram
- Tebal : -
- Diameter : 25,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia”
- Belakang : Gambar badak jawa bercula satu, nominal “rp 200000″
- Samping : Bergerigi

Jual Laptop Bag Aidea @ http://TasLaptop.JawaraShop.com




















Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri save the children fund/1990




Seri / emisi : Seri save the children fund/1990
Pecahan : Rp 200.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Emas
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 01 december 1992
- Penarikan : 31 december

Warna Dominan
- Depan : Kuning
- Belakang : Kuning

Ukuran
- Berat : 10,00 gram
- Tebal : -
- Diameter : 25,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia”
- Belakang : Teks “save the children” dan “200.000 rupiah”
- Samping : Bergerigi

Jual Sandal Nama @ http://SandalNama.JawaraShop.com




















Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri save the children fund/1990




Seri / emisi : Seri save the children fund/1990
Pecahan : Rp 10.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Perak
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 01 december 1992
- Penarikan : 31 december

Warna Dominan
- Depan : Putih
- Belakang : Putih

Ukuran
- Berat : 19,44 gram
- Tebal : -
- Diameter : 36,00 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia”
- Belakang : Gambar 2 anak bermain badminton, teks “save the children” dan “10000 rupiah”
- Samping : Bergerigi

Media Promosi Usaha @ http://MediaPromosiUnik.JawaraShop.com


















Uang Logam Khusus Bank Indonesia seri for the children of the world




Seri / emisi : Seri for the children of the world
Pecahan : Rp 10.000
Zaman / masa : Jaman RI kesatuan

Bahan : Perak
Bentuk : Bulat pipih

Tanggal
- Penerbitan : 31 january 2000
- Penarikan : -

Warna Dominan
- Depan : Putih
- Belakang : Putih

Ukuran
- Berat : 28,28 gram
- Tebal : -
- Diameter : 38,61 mm

Ciri-ciri
- Depan : Gambar lambang negara garuda pancasila, teks “Bank Indonesia” dan logo unicef
- - Belakang : Gambar kegiatan pramuka, penanaman sejuta pohon, teks “for the children of the world” dan
- - Samping : Bergerigi




















19. Rp.2,5
2 ½
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sedikit tentang ejaan yang tertera pada uang kertas kita, khususnya pada pecahan 2 ½ rupiah.
Pertama-tama, mari kita ambil pecahan 2 ½ rupiah yang terdapat pada seri NICA 1943. Perhatikan tulisan pada nominalnya : DOEA ROEPIAH LIMAPOELOEH SEN

DOEA ROEPIAH LIMAPOELOEH SEN (NICA 1943)


Ejaan yang dipakai adalah ejaan van Ophuysen :


Sebelum tahun 1900 setiap peneliti bahasa Indonesia (pada waktu itu bahasa Melayu) membuat sistem ejaannya sendiri-sendiri, sehingga tidak terdapat kesatuan dalam ejaan. Pada tahun 1900, Ch. van Ophuysen mendapat perintah untuk menyusun ejaan Melayu dengan mempergunakan aksara Latin. Dalam usahanya itu ia sekedar mempersatukan bermacam-macam sistem ejaan yang sudah ada, dengan bertolak dari sistem ejaaan bahasa Belanda sebagai landasan pokok. Dengan bantuan Engku Nawawi gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim, akhirnya ditetapkanlah ejaan itu dalam bukunya Kitab Logat Melajoe, yang terkenal dengan nama Ejaan van Ophuysen atau ada juga yang menyebutnya Ejaan Balai Pustaka , pada tahun 1901. Ejaan tersebut tidak sekali jadi tapi tetap mengalami perbaikan dari tahun ke tahun dan baru pada tahun 1926 mendapat bentuk yang tetap.
Selama Kongres Bahasa Indonesia tahun 1938 telah disarankan agar ejaan itu lebih banyak diinternasionalisasikan.

Yang saya mau tekankan disini selain masalah ejaannya juga susunan kata-katanya:
DUA RUPIAH dituliskan lebih dulu baru disusul LIMAPULUH SEN














Sekarang kita ambil beberapa uang lainnya.
Perhatikan susunan kata pada pecahan 2 ½ rupiah seri ORI III 1947 yang tertulis

DUA SETENGAH RUPIAH


DUA SETENGAH RUPIAH (ORI III 26 Juli 1947)
Lalu kita lihat susunan kata pada Uang Daerah Propinsi Sumatera (URIPS) yang dicetak tanggal 17 Agustus 1947. Susunan kata menjadi DUA RUPIAH SETENGAH


DUA RUPIAH SETENGAH (URIPS 17 Agustus 1947)


Susunan kata berubah lagi pada ORIDA (Oeang RI Daerah Atjeh) tanggal 15 September 1947 yang tertulis : DUA RUPIAH LIMA PULUH SEN. Mirip dengan seri NICA tetapi sudah menggunakan ejaan Suwandi :
Dalam perkembangan selanjutnya terutama sesudah Indonesia merdeka dirasakan bahwa ada beberapa hal yang kurang praktis yang harus disempurnakan. Sebenarnya perubahan ejaan itu telah dirancang sewaktu pendudukan Jepang. Pada tanggal 19 Maret 1947 dikeluarkan penetapan baru oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan bapak Suwandi (SK No. 264/Bag.A/47) tentang perubahan ejaan bahasa Indonesia; sebab itu ejaan ini kemudian terkenal dengan nama Ejaan Suwandi. Sebagai dampak dalam keputusan di atas, bunyi oe diganti dengan u. Tetapi baru pada tahun 1949, menurut surat edaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tanda oe resmi diganti dengan u yaitu mulai 1 Januari 1949.














DUA RUPIAH LIMA PULUH SEN (ORIDA 15 September 1947)


Selain macam-macam tulisan di atas, ternyata ada lagi satu jenis uang daerah yang agak aneh dalam menuliskan kata RUPIAH.


DUA SETENGAH RUPIJAH


Sudah dapat kita duga bahwa uang tersebut pasti berasal dari daerah Jawa, tepatnya adalah Daerah Keresidenan Kedu. Tercetak di uang tersebut tanggal terbitnya yaitu Magelang 25 Oktober 1948.
Lalu dimasa pemerintahan Federal, pemerintah Belanda menerbitkan lagi uang kertas terakhirnya yaitu seri Federal III yang bertahun 1948. Ejaan yang dipergunakan masih ejaan van Ophuysen yang berbunyi DOEA ROEPIAH SETENGAH. Yang istimewa adalah kata-kata yang dalam bahasa Indonesia tersebut selain diletakkan di atas kata-kata dalam bahasa Belandanya juga memiliki ukuran yang sama besar. Bandingkan dengan seri NICA yang susunannya terbalik serta kata-kata bahasa Belandanya lebih besar daripada Indonesianya. Hal ini mungkin berarti bahwa Belanda sudah merasa kalah dan berusaha untuk mengambil hati bangsa Indonesia.

















DOEA ROEPIAH SETENGAH (Federal III 1948)



Dari contoh-contoh di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa dimasa awal kemerdekaan Indonesia, ejaan yang dipakai masih kacau. Pihak Belanda mempergunakan ejaan ciptaannya yaitu van Ophuysen, sementara pihak Indonesia berusaha menggantinya dengan ejaan Suwandi. Selain ejaan, susunan atau tata bahasanyapun masih kacau, ada yang tercetak DUA SETENGAH RUPIAH, ada yang DUA RUPIAH SETENGAH dan ada yang DUA RUPIAH LIMA PULUH SEN.
Dapat dipastikan bahwa pada waktu itu telah terjadi perdebatan yang sengit antara para pakar tata bahasa. Yang manakah yang akan dipakai untuk pecahan-pecahan selanjutnya, apakah
DUA SETENGAH RUPIAH,
DUA RUPIAH SETENGAH atau
DUA RUPIAH LIMA PULUH SEN ?

Dan pemenangnya sudah dapat kita duga adalah:

DUA SETENGAH RUPIAH (1951)

Sejak 1951, rupanya para pakar telah mengambil kata sepakat untuk menuliskan semua pecahan 2 ½ rupiah dalam bentuk: DUA SETENGAH RUPIAH
Perkembangan ejaan selanjutnya adalah:
Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 kembali mempersoalkan masalah ejaan. Sesuai dengan usul Kongres, kemudian dibentuk sebuah panitia dengan SK No. 44876 tanggal 19 Juli 1956. Panitia ini berhasil merumuskan patokan-patokan baru pada tahun 1957. Namun keputusan ini tidak dapat dilaksanakan karena ada usaha untuk mempersamakan ejaan Indonesia dan Melayu. Sebab itu pada akhir tahun 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu – Indonesia). Tetapi konsep ejaan ini juga tidak jadi diumumkan karena perkembangan politik kemudian.

Karena laju perkembangan pembangunan, maka dirasakan bahwa ejaan perlu disempurnakan. Sebab itu, di tahun 1966 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sarino Mangunpranoto dibentuk lagi sebuah Panitia Ejaan Bahasa Indonesia, yang bertugas menyusun konsep baru, yang merangkum segala usaha penyempurnaan yang terdahulu. Sesudah berkali-kali diadakan penyempurnaan, maka berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972 diresmikan ejaan baru yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972, yang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Perubahan yang paling penting dalam EYD adalah:

Perubahan dj (seperti pada kata djalan) menjadi j (jalan)
Perubahan j (seperti pada pajung) menjadi y (payung)
Perubahan nj (njonja) menjadi ny (nyonya)
Perubahan sj (sjarat) menjadi sy (syarat)
Perubahan tj (tjakap) menjadi c (cakap) dan
Perubahan ch (tarich) menajdi kh (tarikh)

Ternyata kita juga dapat mempelajari perkembangan ejaan dan tata bahasa Indonesia dari uang kuno.

Perkembangan Uang Seribu Dari Tahun 1952 Sampai 2010


Indonesia merupakan negara yang besar.Indonesia mempunyai mata uang yang terbilang menarik. Mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka adalah Oeang Republik Indonesia atau ORI. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka. Sampai sekarang mata uang Indonesia sudah terdiri dari bermacam-macam bentuk dan jenisnya.Mata uangnya pun sering mengalami perubahan dan pergantian. Uang seribu rupiah pun juga sudah mengalami perubahan dan pergantian berulang kali dari tahun ke tahun. Berikut model dan desain mata uang Indonesia dari tahun 1952 sampai 2009:

Uang Rp 1000,00 Tahun 1952

Uang Rp 1000,00 Tahun 1958



Uang Rp 1000,00 Tahun 1959


Uang Rp 1000,00 Tahun 1960



Uang Rp 1000,00 Tahun 1968


Uang Rp 1000,00 Tahun 1975



Uang Rp 1000,00 Tahun 1980




Uang Rp 1000,00 Tahun 1987



Uang Rp 1000,00 Tahun 1992



Uang Rp 1000,00 Tahun 2000-2010


PERKEMBANGAN UANG DUNIA

Sejarah UANG didunia ini mesti kembali ke jaman Sumeria sekitar 6000 thn yg lalu. Sekitar 4000 SM, Kerajaan Sumeria telah memiliki sistem ekonomi yg mengenal "Uang" dan bukan lagi menggunakan barter.

Walaupun di kebudayaan lain telah ada konsep "Uang" tetapi sifat2xnya dan penggunaannya tidak se Ekstensif seperti yang dilakukan oleh kebudayaan Sumeria.

Uang dijaman itu dinyatakan dalam satuan Shekel. Satuan ini merupakan nilai tukar antara 180 "gun" (biji padi2xan) dengan berat dari perak.
(Jadi perak2x itu beratnya itu harus kurang lebih setara dengan 180 gun biji padi).

Sistem ini kemudian di Adopsi oleh kebudayaan disekitarnya dan disempurnakan oleh kebudayaan Hellenisme dengan membuat Koin. Koin ini begitu mudah dibawah dan diukur sehingga membuat semua orang menyukainya. Hal ini menjadi salah satu faktor dari majunya kebudayaan Yunani dijaman itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, sistem ini disempurnakan, mulai dari standarisasi logam yang digunakan, bentuk dan berat serta berbagai macam simbol dan nominasi dikeluarkan.

Setelah dunia memasuki abad penjelajahan dan menemukan banyak daerah baru didunia ini dan terbukanya jalur perdagangan ke Asia, Amerika dan Afrika maka sistem koin ini dirasa merepotkan dan karena volume transaksi yang meningkat maka mulailah berlaku apa yang dikenal dengan sistem "Uang Perwakilan"/ "Representatives money".

Sistem Representatives money ini adalah cikal bakal sistem Perbankan dan penggunaan Uang Kertas. Pada dasarnya ini adalah sebuah "surat" perjanjian antara pemilik uang yg menitipkan uangnya pada suatu "tempat" (Dijaman sebelum adanya Bank mereka menitipkan uangnya pada Pandai Emas atau pedangang besar lainnya). Tetapi karena transaksi yang terjadi sering harus melintasi laut dan daerah berbahaya serta mungkin tidka segera terjadi dan jg kualitas kertas dan tinta saat itu tidak begitu bagus maka yg digunakan adalah Plat Logam yang berisikan PROMES-TO-PAY untuk membayarkan sejunmlah tertentu uang.

Seiring dengan berkembangnya perdagangan Internasional maka jumlah Emas dan Perak yang ada di Eropa menjadi tidak stabil dan makin sulit untuk menentukan Standarisasi serta karena praktek "Moneter" semakin marak maka akhirnya semakin sulit bagi para "Bankir" ini untuk melakukan akuntabilitas. Oleh sebab itu maka mulailah dibentuk Bank2x sentral sebagai regulator untuk melakukan akuntabilitas dan memastikan standarisasi nilai tukar sehingga tercipta kestabilan.

Di abad ke 18, dengan ditemukannya penggunaan logam2x sebagai bahan campuran
maka logam2x yang dijaman sebelumnya dianggap tidak berharga menjadi memiliki nilai lebih sehingga Bank2x mulai mengantikan sistem pencatatan pada plat logam menjadi sistem pencatatan pada kertas yg distandarisasi. Istilahnya adalah "Bank Notes".

Bank Notes ini ditulis dalam berbagai nominal dan nilainya dapat ditukarkan dengan Emas dan/atau perak. Tetapi karena kebutuhan untk ekspansi Industri dan perdagangan serta berkembangnya konsep Credits and Loans maka satu demi satu negara2x didunia ini mulai meninggalkan sistem "Representatives Money" dan menggunakan apa yg disebut "Fiat Money".

Saat ini bisa dikatakan seluruh negara didunia menggunakan sistem Fiat Money.

Sistem ini mendasarkan nilai dari Uang terhadap supply dan demand nya dipasar dan bukan didasarkan pada nilai tukarnya terhadap logam2x berharga.

Jadi disimpulkan bahwa Nilai dari uang ber evolusi dari kepercayaan terhadap nilai dari barang yang digunakan untuk transaksi menjadi kepercayaan terhadap institusi yang mengeluarkan uang tersebut dan yg terjadi didunia moderen adalah kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi suatu negara terhadap uang yg dicetaknya.

PERKEMBANGAN UANG DUNIA
Perkembangan dunia Foreign Exchange atau yang lebih dikenal sebagai Forex, menunjukkan nilai yang menakjubkan. Pada dekade tahun 1980-an, nilai transaksi perdagangan forex hanya sekitar $70 milyar. Namun pada 2 dekade berikutnya nilai transaksi telah mencapai US$ 1.5 trilliun, dan data terakhir pada bulan Mei 2009 menunjukkan nilai transaksi total sebesar US$ 3.2 trilliun(1).
Namun rasanya kurang lengkap kalau kita membahas seluk beluk Forex tanpa mengetahui apa latar belakang dari timbulnya dunia forex. Bagaimanakah sebenarnya perkembangan forex sampai bisa sampai menjadi bisnis yang besar seperti sekarang ini? Faktor apa yang turut mendukung perkembangannya? Di bawah ini kami akan ulas evolusi pertukaran mata uang dunia yang pada akhirnya melatarbelakangi timbulnya dunia Forex.
1. Mata uang pertama
Mata uang koin untuk pertama kalinya digunakan pada jaman Firaun dan kemudian, mata uang kertas digunakan untuk pertama kalinya pada jaman Babilonia
2. Standarisasi Harga Emas pertama kali di era – 1800
Pada tahun-tahun ini, nilai mata uang dijamin oleh emas murni yang merupakan standar negara tersebut. Dengan harapan, nilai mata uang di negara Eropa dan Amerika pada saat itu relatif stabil.
3. Sistem Bretton Woods – 1944








Bretton Woods
Pada tanggal 22/07/1944, diadakanlah suatu Konferensi Moneter Internasional, yang dikenal dengan “The Bretton Woods Conference“, yang dihadiri 44 negara. Konferensi tersebut bertujuan untuk menyusun rencana pembuatan sistem moneter. Dua tahun setelah konferensi tersebut, didirikan IMF dan Bank Dunia untuk mengawasi sistem tersebut.
4. Floating Exchange Rate System (Sistem Nilai Tukar Mengambang) di era – 1970
Sistem Bretton Wood bertahan 30 tahun karena beberapa negara besar masih mengalami krisis ekonomi yang hebat. Pada 15/08/1971, Presiden Nixon mengumumkan Floating Exchange Rate System untuk pertama kalinya. Hal ini ditegaskan kembali di “Smithsonian Conference” Desember 1971 di Washington. Kelahiran sistem floating yang lebih sederhana itu berlaku sampai dengan sekarang dan pada akhirnya diikuti oleh negara lainnya.

5. Forex meningkat pesat di benua Asia, Eropa dan Amerika di era-1980
Transaksi perdagangan di Benua Asia, Eropa dan Amerika meningkat sangat pesat, dari US$ 70 milyar/hari menjadi US$ 1,5 triliun/hari dalam dua dekade berikutnya yang dipicu karena kenaikan harga minyak dunia dan juga kemajuan teknologi pada saat itu.
6. Forex diperkenalkan dengan Internet di era-1990
Sistem perdagangan Forex secara online mulai dicetuskan di Chicago sekitar tahun 1987 dan mulai digunakan mulai tahun 1992. Sistem ini memungkinkan para pelaku pasar untuk melakukan transaksi melalui internet meskipun mereka berada jauh dari tempat perdagangan bursa saham dan mata uang.
7. Kedatangan Euro dalam Forex di abad ke-21
Pada 01/01/2002, sejarah Forex bertambah, dengan diperkenalkannya mata uang Euro sebagai mata uang resmi di 12 negara Eropa. Saat ini, Euro masuk dalam lima besar mata uang tersering yang digunakan dalam pasar Forex.
Di atas, kami telah menjabarkan titik-titik inti yang, menurut kami, membentuk garis besar perkembangan dan juga perubahan dunia Forex. Sekarang kami akan menguraikan tentang 2 faktor -perkembangan teknologi dan penerapan regulasi- yang menurut kami adalah fasilitator besar dalam perubahan dunia Forex. Kami juga akan menunjukan bahwa disadari ataupun tidak, filosofi yang melandasi 2 faktor tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah peningkatan akan User Trading Experience.
Charles Darwin pernah berkata:
”Bukan spesies terkuatlah yang dapat bertahan, bukanlah yang terpintar, namun yang paling tanggap akan perubahan”.
Evolusi dalam dunia Forex, dimana para pelakunya -secara kolektif- menjadi lebih tanggap akan perubahan dan perkembangan, terjadi melalui rentan waktu yang relatif panjang dan proses evolusi tersebut terus berlanjut hingga saat ini
Faktor teknologi, tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu katalisator percepatan pertumbuhan bisnis forex. Dimulai dari dikembangkannya global elektronik trading sistem pertama di tahun 1987 oleh CME Globex(3) dan dibantu oleh teknologi beserta jaringan mass media Reuter yang menjadi cikal bakal lahirnya sistem online trading.
Dengan menggunakan media internet, forex trading dapat dilakukan secara online melalui ratusan broker dengan menggunakan beberapa macam trading platform. Para pelaku pasar tidak perlu lagi untuk datang ke tempat perdagangan bursa efek dan mata uang, akan tetapi mereka dapat melakukan trading cukup dari rumah atau kantor. Faktor teknologi yang memberikan banyak kemudahan, menjadikan forex sebagai salah satu cabang investasi dengan nilai transaksi multi-million dan terus berkembang pesat selama 3 dekade ini.
Faktor lain yang mendukung kemajuan forex adalah adanya regulasi – regulasi yang terus dibentuk dan dikembangkan dalam upaya untuk menjamin keamanan bisnis ini bagi para investornya. Adanya kemauan untuk membentuk suatu aturan dalam proses perdagangan forex mulai ditandai pada tahun 2000 yang diprakarsai oleh Presiden Amerika Bill Clinton, bersama – sama dengan Kongres Amerika dan perkumpulan asosiasi perdagangan forex pada saat itu menjadi awal lahirnya badan – badan dan asosiasi yang mengatur soal forex trading seperti, National Futures Association ( NFA ), Commodity Trading Futures Commision ( CTFC ) di Amerika dan Financial Service Authority ( FSA ) di Inggris. Regulasi – regulasi yang telah berhasil dirumuskan, membuat bisnis forex semakin aman dan berkembang kearah yang lebih baik.
Sebagai penutup, kami ingin menekankan bahwa, disengaja ataupun tidak, filosofi dasar dari dunia Forex yang telah “berevolusi dan beradaptasi” adalah: peningkatan akan User Trading Experience. Seperti yang telah dijelaskan di atas, evolusi dunia Forex difasilitasi oleh setidaknya 2 hal:
1. perkembangan teknologi dalam pengembangan sistem forex trading dan,
2. adanya regulasi – regulasi yang mengatur para pelakunya.
Perkembangan teknologi (terutama internet) memberikan kemudahan bagi para pihak trader untuk dapat trading di tempat yang lebih flexible (contoh: dari rumah sendiri). Kemudahan bagi trader sinonim dengan: better User Trading Experience.
Regulasi- regulasi dan tata cara yang ditetapkan untuk para pelaku trading (salah satunya adalah broker) membuat dunia Forex, secara keseluruhan, bergerak ke arah yang lebih aman dan dapat dipercaya. Lebih aman dan dapat dipercaya adalah faktor yang berkontribusi besar untuk kenyamanan bagi para trader yang juga berarti: better User Trading Experience.































LIRIK / SYAIR TENTANG UANG
Nicky Astria
Uang
Tak pandang di mana saja,
di seluruh dunia ini...uh
Tak habis orang bicara,
tak henti orang berdiskusi
uh...uh...

Tiada bukan, tiada lain
mereka mencari cara tepat
untuk mendapatkan uang
oh...uang...
oh...lagi-lagi uang

Memang uang bisa bikin
orang senang bukan kepalang uh...
Namun uang bisa juga
bikin orang mabuk kepayang uh...
Lupa sahabat, lupa kerabat
lupa saudara,
mungkin juga lupa ingatan
oh...uang...
oh...lagi-lagi uang


Uang bisa bikin orang
senang tiada kepalang
Uang bikin mabuk kepayang uh...
Uang
oleh: Rhoma Irama


Di dunia sekarang uang jadi pedoman
Banyak orang berkata uang berkuasa
Mereka berlomba untuk memperolehnya
Tanpa menghiraukan halal dan haramnya
Begitulah manusia di dunia sekarang

Dari mana uang kaudapatkan
Dan ke mana engkau belanjakan
Itu kelak ditanyakan Tuhan
Bila nyata dari jalan haram
Adzab yang pedih pasti mengancam
Neraka jahanam itulah tempatnya

Dari itu hai kawan baik kaupikirkan
Agar tiada sesal hari kemudian
Janganlah kau lengah hanya karena uang



Rupiah
oleh: Rhoma Irama


Tiada orang yang tak suka
Pada yang bernama rupiah
Semua orang mencarinya
Di mana rupiah berada

Walaupun harus nyawa sebagai taruhannya
Banyak orang yang rela cuma karena rupiah

Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah

Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah

Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah

Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencari rupiah
Asal jangan halalkan cara

Buat apa berlimpah kalau jadi bencana
Sedikit pun jadilah asal membawa berkah

Dari itu jangan serakah
Di dalam mencari rupiah














Lusy Rahmawati – Ada Uang (Abang Sayang)
abang mata keranjang
mendekatlah engkau kepadaku
janganlah engkau ragu
karna ku tahu maksudmu
memang lelaki semua sama
punya hasrat yang tak jauh beda
begitupun juga kau bagai serigala
memang pantas diriku
membodohi kamu
reff:
ada uang abang sayang
tak ada uang abang ku tendang
memang pantas diriku melakukan itu
ada uang abang sayang
tak ada uang abang ku tendang
memang pantas dirimu mendapatkan itu
eh kamu abang mata keranjang
dekat-dekatlah kau kepadaku
janganlah engkau ragu
karna ku tahu maksudmu
memang lelaki semua sama
punya hasrat yang tak jauh beda
begitupun juga kau bagai serigala
memang pantas diriku
membodohi kamu
Cari Uang
Shinta Bachir
dari hari senin sampai senin lagi
bangun pagi-pagi kita kerja lagi
cari apa, cari apa sayang

aduh capek banget, aduh males banget
pulang pagi lagi, kerja sampai pagi
cari apa, cari apa sayang
reff:
cari duit lagi, cari uang lagi
tiap hari cari duit, tiap hari cari uang
cari duit lagi, cari uang lagi
biar jadi orang kaya, bisa bagi-bagi uang
aduh capek banget, aduh males banget
pulang pagi lagi, kerja sampai pagi
cari apa, cari apa sayang
repeat reff [3x]

Naif
Cipt : David
Intro: C F (2x)
C F C F
Aku mau pulang, aku mau pulang
C
Aku mau pulang dan membawa uang segudang… segudang…
C F C
Uu… uang… uu… uang… (2x)
C F C F
Aku mau pulang, aku mau pulang
C
Aku mau pulang dan membawa uang segudang… segudang…
C F C
Uu… uang… uu… uang… (2x)
C7 F
Aku ingin lekas pulang, dan membawa banyak uang (2x)
C
Aku mau pulang dan membawa uang segudang… segudang…

Uu… uang…

Int: C F (2x)
C
Aku mau pulang dan membawa uang
F C
Segudang… segudang… uu… uang...









KESIMPULAN :


U
ang adalah salah satu pilar ekonomi. Uang memudahkan proses pertukaran komoditi dan jasa. Setiap proses produksi dan distribusi pasti menggunakan uang. Hanya saja manusia tidak mencapai penemuan uang itu dalam sekejap. Pada awalnya mereka melakukan pertukaran barang dan jasa secara barter sebagaimana telah dijelaskan. Kemudian mereka mengkhususkan suatu barang yang ada dan tersebar luas dari berbagai macam barang dan menjadikannya sebagai ukuran harga segala sesuatu.

Di download dari internet : http://google.com
http://opera.com
http://internetexplorer.com
http://googlechrome.com

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment

Put My link in your blog than, click that lick from your blog, anda automaticly your link will appear in my web, thanks alot guys .... link :

BEst BacklinkUnique CultureTutorial 1945Facta 56UnvBacklinkBululawangEmak BacklinkDAnishaBacklinkEmak BacklinkDAnishBacklinkPlugboard ManiaAutomatic Backlink ExchangeText Back Links ExchangesUnlimited Backlink ExchangeFree BacklinksFree Automatic LinkFree BacklinksUnlimited Backlink ExchangeUnlimited Backlink ExchangeFree Automatic LinkFree BacklinksWeb Link ExchangeText Back Links ExchangesText Back Links ExchangeText Back Link ExchangeDAHOAM Free BacklinksIntercambio gratis de Enlaces